Jumat, 18 September 2020

,

Foto oleh Lukas dari Pexels
Foto oleh Lukas dari Pexels


Pandemi gini buat semua situasi berubah. Gak terkecuali keadaan ekonomi, banyak pekerja yang di-PHK dan kehilangan pemasukannya nih. Mungkin pula kamu adalah salah satunya.

Kondisi gini bikin kita semuanya lebih intens berususan secara jarah jauh dengan menggunakan teknologi, terutama internet. Bahkan salah satunya adalah pemanfaatan bisnis online gaes. 

Masalahnya, terkadang saat kita pingin mulai berbisnis secara online harus mengeluarkan modal terlebih dahulu. 

"Lah udah kondisi ekonomi susah, gimana ni mau keluarin uang lagi :(  "

Tenang saudara-saudara, Kamu tetap bisa kok memulai bisnis secara online tanpa harus mengeluarkan modal, yuk disimak cara ini !


5 Rekomendasi Usaha Online Tanpa Modal

1.Penulis Lepas

Foto oleh Anna Shvets dari Pexels
Foto oleh Anna Shvets dari Pexels


Kamu punya kemampuan menulis yang bisa diandalkan?
Jangan disia-siain, cobain deh kerja jadi penulis lepas. Usaha ini bisa dibilang cukup populer banget, karena saat ini nih, banyakkk banget situs situs yang membutuhkan konten artikel untuk situsnya. Kesempatan emas ini bisa banget kamu manfaatin untuk nyari cuan.

Mungkin banyak yang bilang ini mudah, tapi sebenarnya ni, kemampuan menulis sugestif yang bisa dapetin banyak perhatian pembaca bukanlah skill yang rendahan lho, gak sembarangan orang bisa menulis dengan skill ini. 

Karena itu pula, untuk Kamu yang masih penulis pemula, sangat wajar jika dibayar murah. Terus tingkatkan kemampuan kamu sampai mahir dan dapat dibayar lebih tinggi yaa!

Kamu bisa cari lowongan ini di situs komunitas menulis seperti Hipwee, KaryaKarsa, VoxPop dan situs lainnya.

2. Jasa Penerjemah

Foto oleh Ivan Samkov dari Pexels
Foto oleh Ivan Samkov dari Pexels


Yapp tawaran yang satu ini bertambah banyak permintaannya. Kamu hanya perlu bermodal kemampuan berbahasa Inggris lhoo. 

Kalo kamu nyari lowongan ini, siap siap mendapatkan beragam jenis tawaran mulai dari terjemahan dokumen dengan level yang kecil sampai terjemahan yang cukup tinggi.

Kamu bisa mulai portofolio kamu sebagai penerjemah dengan menawarkan jasa kamu ke teman terdekat kamu, dapatkan kepercayaan mereka dan minta mereka untuk merekomendasikan kamu ke koneksinya yang lain. 

Kamu akan mendapatkan koneksi yang lebih luas dari jaringan yang sudah kamu bangun sebelumnya.

Kamu bisa cari lowongan ini di situs freelancer publik.


3. Jasa Desain Grafis

Foto oleh Kaboompics .com dari Pexels
Foto oleh Kaboompics .com dari Pexels



Wohoo ini nih yang gencar banget lowongannya. Untuk Kamu yang punya minat dan kemampuan di bidang desain, jangan lewatin kesempatan ini.

Bermodal perangkat Hp atau Laptop dan kemampuan desain, Kamu bisa dapetin pasar dengan penawaran hingga berpuluh juta lhoo. Wow bangettt kan.

Perkembangan zaman gini nih permintaan jasa desain juga meningkat nih. Jangan dipandang sebelah mata! Mendesain itu bukanlah pekerjaan yang mudah lho! Memerlukan kreatifitas, inovasi dan kemapuan imajinasi yang tinggi. 

Untuk Kamu yang masih pemula di dunia desain, teruslah berusaha dan mengembangkan kemampuan Kamu. 

Kamu bisa cari lowongan ini dimulai dari teman temanmu hingga di marketplace dengan mensubmit hasil karyamu untuk dijual.

4. Admin Media Sosial

Foto oleh cottonbro dari Pexels
Foto oleh cottonbro dari Pexels

Nah untuk usaha yang satu ini pun lagi banyak dibutuhkan banget ni gaes. Berkembangnya media sosial tentu juga dibutuhkan admin untuk akun media sosialnya.

Hampir semua orang memiliki akun media sosial dong, dan tentunya sudah familiar dengan mengelola akun. Namun untuk lowongan ini, Kamu akan ditugaskan untuk mengelola akun yang lebih profesional nih gaes.

Tugas dari seorang Admin Media Sosial juga bukan hanya main main lhoo, mereka diminta untuk menganalisis dan mencari cara untuk meningkatkan follower, interaksi akun, bahkan hingga ide konten nih.

5. Menjadi Tutor Online

Foto oleh 祝 鹤槐 dari Pexels
Foto oleh 祝 鹤槐 dari Pexels

Belajar dari rumah menjadi kebiasaan baru kita nih. Nah peluang usaha yang satu ini tentu aja akan meningkat gaes. 

Saat ini nih, banyak banget orang yang bikin kelas kelas online, webinar dan sesi berbagi materi yang berisi berbagai konten yang tentunya bisa kamu manfaatkan menjadi peluang usaha.

Untuk usaha yang satu ini, Kamu haruslah mengusai dengan mendalam ilmu yang akan kamu ajarkan. Gak bisa sembarangan nih kamu memulai usaha ini, bisa bisa reputasi kamu malahan lebih jelek jadinya.



Nah gimana dengan 5 rekomendasi yang udah kita diskusiin?

Kamu tertarik untuk memulai salah satu diantaranya?

Jangan sia-siain nih kemampuan Kamu.

Semoga tulisan ini bisa membantuk Kamu untuk memulai usaha online tanpa harus keluar modal yaa!!!





Selasa, 21 Juli 2020

,

Sumber gambar : https://thedailytexan.com/

Okay kali ini sepertinya kita memiliki topik yang sangat seru untuk dibahas. Hal ini menyangkut erat dengan diri kita masing masing, topiknya akan terasa dekat, dan dapat kita rasakan secara langsung.

Topik psikologi selalu punya cerita yang keren untuk dibahas, yuk mari diskusi kitaa!

Pernah gak sih, kita ngerasa dalam suatu kondisi yang bisa jadi adalah kondisi dimana kita tidak sedang baik baik saja, kita merasa ada yang salah dengan diri kita sampai sampai kita merasa diri kita memiliki gangguan? Iyaaa kita merasa kayak

"sepertinya aku ngidap gangguan ini deh",
"aku kok moodnya naik turun, apa jangan jangan aku gangguan yaa?",
"orang lain normalnya begitu, kok aku begini yaa, apa mungkin ada yang salah dengan diriku?"

Atau mungkin saat ngeliat postingan "tes kepribadian" yang banyak sekali beredar di internet,

"Eh iya yaa, bener juga aku tu kayak itu, kayaknya aku kenak gangguan ini deh",
"cocok banget sih kayak aku, sikap dan sifat aku tu kayak gitu, fix aku kayaknya gini deh"

dan bentuk bentuk anggapan terhadap diri kita sendiri lainnya yang menyangka kita memiliki gangguan. Hal hal diatas tentu kita rasakan saat memiliki bandingan dengan yang lainnya. Dengan kata lain, kita melakukan hal tersebut karena memiliki rasa penasaran akan perbedaan yang kita rasakan, atau dikala mendapatkan informasi dan kita menggeneralisirkan apa yang kita dapatkan.

Padahal kenyataannya, informasi yang tersebar belum tentu menjadi informasi yang siap diterima mentah mentah, memerlukan proses untuk diaplikasikan, dalam artian belum tentu kebenarannya.

Kita bisa saja melihat hal ini sebagai bentuk kemajuan dari kesadaran akan kesehatan mental diri kita sendiri, kita akan memposisikan diri bahwa kita lebih peka terhadap diri kita sendiri dan merasa bahwa kita sudah memahami diri kita, karena itu kita berani untuk mengatakan bahwa ada yang salah dengan diri kita.

Namun, ternyata anggapan inipun adalah sebuah kesalahan. Tindakan saat kita mendiagnosa diri sendiri disebut Self-Diagnose. Self-Diagnose adalah tindakan saat kita mendiagnosa diri kita sendiri memiliki gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan yang kita miliki, baik dari perbandingan yang telah kita bicarakan diatas, atau juga dengan informasi "sekedar" yang kita dapatkan.

"Aku moodnya sering berubah ni, aku kayaknya bipolar deh",
"Haduh aku ngerasa beban banget, depresi akut nih akuu",
""

Saat kita merasa bahwa kita memiliki gangguan, tentu kita akan mengalami kepanikan yang berlebih. Hal ini akan memperburuk keadaan, sikap yang sangat berbahaya. Saat kita merasa ada yang salah dengan diri kita, jangan langsung mendiagnosa, 


Kita bukanlah profesional yang dapat menentukan gangguan apa yang menyerang kita.


Banyak banget sih dampak yang buruk saat kita langsung menekankan bahwa kita mengalami gangguan tertentu, kayak tadi yang kita bicarain, kita bisa mengalami kepanikan yang berlebih, terus juga bakalan berbahaya banget kalo kita mengambil tindakan minum obat sendiri tanpa resep dari dokter, haduuh bahaya kann. Misal ni kita udah ngerasa tau apa penanganannya, dan sok tau apa obatnya, minum obat gak ada anjuran dokter, dosis nyaa pun asal asalan, huaa gimana coba itu jadinyaa. 

Gangguan mental itu kan penyakit yang cukup kompleks yaa, gejalanya itu bukan cuma secara psikis, tapi juga gejela fisik, dan juga tentunya untuk mendiagnosa kalo kita mengidap suatu gangguan, ada prosedur pemeriksaan yang harus dilakukan kan yaaa, ada kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat mendiagnosa suatu gangguan. 

Kalo kita ngerasa ada yang salah dengan diri kita, coba untuk  bicarakan dengan orang orang terdekat, tanyakan pada mereka mengenai apa yang kamu rasakan untuk perbandingan dengan apa yang kamu pikirkan. Temui psikolog untuk konsultasi apabila dirasa perlu. Datang ke psikolog bukanlah hal yang rendahan kok. Banyak yang beranggapan bahwa datang ke psikolog itu orang yang parah banget deh, udah sakit dan bermasalah. Aku pribadi sangat engga setuju.

Aku pernah kok datang ke psikolog untuk konsultasi, dan aku gak ngerasa malu dengan hal itu.


Aku ngerasa ke psikolog penting saat dirasa perlu. Sooo, jangan malu untuk menjaga kesehatan mental kita.

Thanks.

Mendiagnosis diri sendiri itu ibarat duduk di kursi goyang. Dia gak akan membawamu kemana-mana kecuali maju mundur dalam kebimbangan

Sabtu, 06 Juni 2020

,


Engkau percaya?
Menangis adalah candu, yang menenangkan pikiranmu lebih dari yang kamu duga
Menumpahkan apa yang tak sanggup ditumpahkan
Kata kata bukanlah lagi sebuah asa, biarkan tetesan yang menyuarakan apa yang ingin  dirasa

Engkau percaya?
Dibalik deraian air mata, tersirat sebuah ketenangan jiwa
Yang membatinkan kedamaian, dan melahirkan sebuah keagungan
Tetesan air suci yang tumpah kebumi, namun ajaibnya doa doa yang engkau tahan terlangitkan

Engkau percaya?
Menangis adalah bentuk paling mulia dari sifat mu
Saat engkau berani menahan dan menggantikan dengan doa dalam diammu
Saat engkau tak sanggup melampiaskan dan mencurahkan dengan Illah mu
Biarkan ia mengalir dan memancarkan sebuah kebijaksanaan

Sekali lagi, Engkau percaya?
Menangis menandakan hatimu yang tak usang
Yang menyimbolkan kerendahan hati, dan ketinggian martabat jiwa

Menangislah, tuangkan dan rasakan,
Saat engkau menyatu dalam diam
Berdamai dengan semesta
Dan biarkan dirimu tenggelam dalam untaian doa.




Banda Aceh, 6 Juni 2020, 05.50

Rabu, 27 Mei 2020

,



[Notes : Tulisan ini adalah beberapa hal yang ingin aku bagikan berdasarkan apa yang aku rasakan dan aku coba mengerti, bukanlah pembahasan lebih dalam secara saintifik. Dan konsep yang ada disini benar benar sudut pandang aku, yang bisa aja gak sesuai dengan nilai yang orang lain anut, hal yang wajar untuk menjadi berbeda kok ,hehe]

    Pas banget momen Idul Fitri, walaupun beda suasana, momen kedekatan dan merekatkan kembali silaturrahmi harus tetap jalan dong yaa.

    Yang khas banget di momen ginian tentu aja minta maaf lahir batin dong yaa. Hari yang fitri, hari kemenangan. Perlu diperhatiin ni, kita udah coba minta maaf ke oran lain, tapi gimana dengan diri kita sendiri, udah minta maaf ke diri sendiri belumm?
Kalo kita ngerasa penting untuk minta maaf ke orang lain, kitapun harus sadar bahwa jauh lebih penting untuk minta maaf ke diri sendiri.

Kenapa harus minta maaf ke diri sendiri? emangnya apa yang aku lakuin sampean harus minta maaf? lagian kan diri aku sendiri pun
    Menurut aku diri kita sendiri lah yang paling patut kita maafin terlebih dahulu. Entah itu secara sadar atau tidak, pasti kita semua pernah melakukan kesalahan, dan gak jarang kesalahan tersebut bener bener mengecewakan diri kita, membuat kita kesel dengan diri sendiri, bahkan sampean nyalahin diri sendiri terus. 

Sebelum lebih jauh ni, kenapa rasa bersalah itu bisa muncul dan apa fungsi dia sih?

    Kalo kita analogiin aja sih, rasa bersalah kan muncul dari ketidaksesuaian antara apa yang harus dilakuin dan apa yang kita kerjain, jadi rasa bersalah itu muncul saat kita ngelakuin hal yang gak seharusmya. Nah dari sini, kita bisa dong bentuk sebuah argumen kalo sebenarnya rasa bersalah itu datang sebagai bentuk peringatan kepada diri kita sendiri agar mengerti situasi yang terjadi, ngerti kalo kondisi disaat itu adalah sesuatu yang tidak tepat. Tapi niiii, rasa bersalah ini hanya akan menjadi hal yang baik kalo kita ngeresponnya sesuai dengan kadarnya. Pasalnyaa, banyak dari kita yang ngerasain rasa bersalah terlalu jauh, rasa bersalah itu menjadi sangat berat bagi kita. Entah apapun yang melatarbelakangi hal ini muncul, tetap aja akan berdampak tidak baik banget bagi diri kita.

    Rasa bersalah ini menjadi sebuah cap buruk yang tersemat ke dalam diri sendiri akibat sesuatu di masa lalu baik itu kekurangan, kekesalan dan kekecewaan, dalam konteks ini kita menisbatkan diri dengan segala hal tersebut. Hal yang berlebihan ini akan membawa kita kepada kondisi dimana kita kehilangan kepercayaan atas diri kita sendiri, mungkin aja akan terucap hal hal seperti :
    "kok gini doang aku gak bisa diandelin sih",
    "apa iya aku seburuk itu", 
    "coba aja dulu aku gak begini",
    "semua pasti berbeda kalo aku ngelakuin hal yang lain, bukan yang itu"

    Kata kata diatas gini adalah sedikit bentuk atas rasa bersalah yang terlalu besar dalam diri kita, yang mana sampe bikin kita udah gak yakin lagi atas diri kita, ngerasa udah capek atas apa yang kita lakuin, salah melulu, salah terus, gak berguna terus. 

    Lalu juga, ternyata rasa bersalah ke diri sendiri itu bukan hanya bisa muncul dari tindakan yang kita secara sadar bertanggung jawab atasnya, melainkan juga bisa terjadi atas hal hal yang diluar tanggung jawab kita, diluar kendali dan kontrol kita, yang bukan lah kesalahan kita secara mutlak. 

    Hal ini bisa terjadi pada kasus hal hal yang kredensial dengan kita, yang sifatnya personal, dekat dengan kita dan memiliki hubungan secara batin yang dalam, sehingga memunculkan kecenderungan kita akan kesalahan tersebut adalah kesalahan kita juga, walaupun pada kenyataannya bukan lah kesalahan kita secara mutlak. Rasa bersalah yang seperti ini bisa muncul sebagai bentuk kehilangan kepercayaan kita terhadap lingkaran sosial terdekat kita, ataupula rusaknya hubungan dengan orang orang yang sangat dekat dengan kita, ataupula dari lingkungan pertama kali kita, keluarga.

    Hal diatas hanya sebagian kecil sampel dari bentuk yang bisa saja terjadi. Sampe sini kita anggep bahwa persepsi kita mengenai rasa bersalah yang akan kita bicarakan udah sama yaa. 

Okay, bentuk rasa bersalah yang "kegedean porsinya" ini yang harus ditindak lanjuti dengan baik. Pelan pelan. 

    Yok coba kita bahas, apaan aja sih sebenarnya yang harus dimaafin dari diri sendiri dalam bentuk dimana aja yang kita gak sadar kalo sebenarnya kita udah ngelakuin kesalahan ke diri sendiri!

  1. Saat ternyata harapan yang kita emban dan bawa tidak sesuai dan sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang saat ini harus kita tanggung. Kenyataan yang kita alami adalah hasil dari keputusan baik kita sendiri yang memutuskannya maupun orang lain yang memiliki pengaruh atas diri kita. 
  2. Saat apa yang kita lakuin untuk menggapai apa yang kita tujukan terhenti ditengah jalan, dihentikan, atau terhentikan, mungkin saja dengan alasan konyol yang bahkan gak bisa kita pikirin apakah hal tersebut mungkin untuk terjadi.
  3. Saat kita tidak menyadari bahwa sudah terlalu keras dengan diri sendiri, mengedepankan perasaan orang lain terlebih dahulu dan tidak mengutamakan perasaan diri sendiri. 
  4. Saat keputusan yang diambil bukanlah keputusan paling ideal yang kita pikirkan (disaat itu)
  5. Hal hal diluar kendali kita berbuat hal hal yang berlawanan dengan nilai yang kita anut yang juga menyakiti kita.
    Sedikit cerita, dulu semenjak SD, mimpi aku gak pernah berubah untuk menjadi seorang dokter, mengikuti jejak kedua orang tua, embel embel "anak dokter" itu selalu melekat membentuk stigma kalo aku harus jadi dokter. Bukan paksaan, emang mimpi aku banget. Dari SMA perkembangan akademik aku mengalami kemajuan pesat banget, aku sungguh sungguh untuk bisa lulus ke pendidikan dokter. Dari kelas 1 udah ngikut try out dan hasilnya selalu berkembang, sampean nilai aku udah lulus untuk bisa masuk ke kedokteran. Waktu itu aku terlalu buta kali yaa, keinginan aku terhalang oleh kondisi saat itu, dan aku dengan bersikukuh terus maju tanpa pertimbangkan kondisi yang bener bener krusial. Langsung aja ke intinya, aku gak lulus jalur undangan, dan gak ikut tes lagi untuk ke FK. Pernah hancur banget.

    Pernah ngerasin kegagalan dan kekecewaan yang sangat mendalam, merasa bersalah atas keputusan aku dan dengan kondisi yang terjadi saat itu. Pernah menghakimi diri sendiri dan pernah meragukan diri sendiri, pernah ngerasa gak bisa diandalkan dan ngerasa gak pantas.

Kalo kita gunakan kerangka yang ada diatas tadi dengan cerita aku, hal hal yang menjadi rasa bersalah aku disebabkan :
  • Harapan aku tidak sesuai dengan kenyataan yang aku hadapi.
  • Kerja keras aku terhentikan, gak bisa dilanjutkan karena kondisi.
  • Terlalu keras dengan diri sendiri, dengan egonya yakin kalo aku bisa lulus tanpa mempertimbangkan hal lain

    Banyak hal lain lagi yang cukup personal untuk aku bahas, jadi gak bisa menceritakan banyak hal. Yang pastinya, kita semua pernah memiliki waktu waktu yang buruk dalam hidup kita, semua kita punya persoalan hidup masing masing jenisnya.


Kita harus yakinkan terlebih dahulu, bahwa masalah apapun yang saat ini kita rasakan adalah mutlak kesalahan yang punya jalan keluar. Semua akan baik baik aja kok. Kita memerlukan waktu untuk menerima terlebih dahulu apa yang terjadi dengan diri kita. Bukan hal mudah memang, bahkan kita masih akan terus berusaha untuk menerima keadaan. Move on dari kenyataan yang terjadi bukan bagai membalikan telapak tangan, perlu waktu, perlu proses.

Kesalahan yang udah terjadi di masa lalu gak bisa kita ubah, gak bisa dong kita balikin waktu dan berharap untuk kembali ke kejadian waktu itu dan ngerubah alurnya. Artinya kita sudah siap nerima kalo itu benar benar terjadi. Setelah menerima apa yang terjadi, mengenali dan mengetahui dengan jelas apa yang terjadi, selanjutnya kita coba untuk rubah pemikiran. Yang tadinya kita anggap itu terlalu besar, coba kita pecah pecahkan menjadi hal yang lebih sederhana, bongkar sedikit demi sedikit bagian lukanya.

Pelajaran yang penting dalam hidup kita muncul dan dapat kita pelajari di waktu waktu yang tidak terduga, muncul tiba tiba tanpa ada persiapan, yap gitu deh yang namanya ujian kehidupan. Kesalahan yang 

Kesalahan apapun itu, tak selalu buruk, ada hal hal yang ternyata tidak kita duga muncul menjadi hal yang lebih baik. Bahkan lebih baik dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Semakin kita cepat menerima hal yang terjadi, kita punya waktu yang lebih cepat untuk bertemu dengan hal hal baik lainnya.

Setelah kekecewaan yang dalam akibat engga lulus Fk, ternyata dengan cepatnya pula aku dihadapkan dengan hal yang jauh jauhhh lebih baik.

Yakinkan kalo kita bukanlah cap buruk dari kesalahan tersebut. Kamu bukanlah kesalahan yang kamu perbuat. Diri kita bukanlah bentukan dari kesalahan kesalahan yang terjadi, diri kita adalah diri kita. Gak penting seberapa butuk waktu yang pernah kita alami, hal tersebut sudah berlalu, fokuskan pikiran kita ke depan.


Kita sendirilah yang menciptakan kebahagian diri kita sendiri. Setiap saat kita akan dihadapkan dengan pilihan : menyesali kegagalan dan bertahan di masa lalu, atau menggenggam kegagalan dan berjalan kembali meraih kebahagiaan. Bagi aku, senyum adalah pilihan bukan hanya keajaiban. Kita yang memilih untuk tersenyum, maka kesalahan banget kalo kita menunggu dan berharap datang hal hal yang membuat kita bahagia. 

Yaap sekian.
Aku menulis untuk diriku...
Terima kasih :)


Minggu, 10 Mei 2020

,
Foto oleh Steve Johnson dari Pexels


Haii semuanya, bertemu disni, mari makin meruncingkan pikiran dan memperkaya sudut pandang

Kali ini ada suatu topik yang bakalan seru banget buat kita bahas ni. Namanya "Paradoks Pilihan".
Aku dapat referensi materi ini dari

The Paradox of Choice: Mengapa Lebih itu Kurang


Okay, dari yang aku baca dan pahami, hal ini bakalan terjadi saat kita (baca : manusia) dihadapkan dengan banyak pilihan, kita bakal lebih sulit untuk memutuskan pilihan kita. Hal ini juga bisa aja bikin kita lebih sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Manusia akan lebih bahagia apabila dihadapkan dengan lebih sedikit pilihan (yang terbatas) dari pada lebih banyak pilihan.

Contoh simpelnya mungkin saat kamu berbelanja ke minimarket, berjalan ke lorong makanan dan kamu menemukan banyak sekali pilihan snack, kamu akan sulit untuk menentukan mana yang ingin kamu beli. Kita sering menduga saat kita memiliki banyak pilihan, kita akan cenderung lebih bahagia dan dapat menentukan apapun yang ingin kita pilih, namun ternyata berbalik dengan kenyataannya.

Atau saat kamu pergi ke toko buku (tanpa persiapan buku apa yang ingin dibeli, okay ini sering terjadi sama aku) dan menemukan banyak banget buku, kamu bakalan sulit buat milih buku mana yang ingin kamu beli, serasanya semuanyaa bagusss dan kamu pingin deh beli semuanya.

Mungkin kita mendefinisikan bahwa memiliki banyak pilihan adalah bentuk dari "kekuasaan" yang kita miliki, yang mana kita merasa kuat dan memiliki posisi yang lebih tinggi disaat banyak pilihan yang dapat kita ambil, terntaya hal ini tidak selalu menghasilkan kualitas yang baik atau bahkan memberikan kebebasan yang lebih kepada kita. Bahkan sering kali pula beragamnya pilihan yang tersedia membuat kita semakin buram untuk menentukan pilihan apa yang tebaik, dari hal ini dapat saja membuat kita salah memilih atas keputusan kita sendiri.

Kalo kita tinjau sih yaa, saat kita memiliki banyak pilihan, kita pasti ngerasa kayak memiliki "akses penuh" akan hal hal yang ada dihadapan kita, tentu aja dong, kita bisa milih a, atau milih b, yaa terserah kita mau milih yang mana, toh banyak pilihan yang tersedia, tapii nii, saat kita memutuskan untuk memilih dari banyak pilihan, ternyata kita akan mengeluarkan lebih banyak hal, kita akan lebih sulit menimbang apa yang terbaik, dari situ juga akan meningkatkan resiko kita bertemu dengan keputusan yang salah.

Okay coba kita liat contoh bentuk kekuasan yang kita sebutin diatas. Aku ngebayangin contoh di kartu internet. Yapp, internet provider. Kekuasaan disini kita maknakan dengan kemampuan ekonomi. Mereka yang memiliki uang lebih banyak bakal bisa memilih lebih banyak pilihan, sedangkan yang agak kurang, cuma bisa memilih lebih sedikit pilihan. Kalo aku ngeliat, hal ini bakal berdampak ke bagaimana orang tersebut nenutin mau beli yang mana, harganya berapa, kuota data seberapa banyak, yang entar bisa aja kita beli kuota ternyata dengan kualitas yang sama aja.

Satu hal lain lagi yang menurut aku contoh nyatanya adalah perbedaan orang yang tamatan sarjana dan (maaf) tamatan SMP/SMA dalam mencari kerja. Mungkin engga terlihat jelas dimana hal ini terjadi. Aku pingin coba bedah apa yang aku dapat. Tamatan sarjana akan ngerasa memiliki banyak kesempatan dalam memilih kerja, contoh lulusan anak informatika, saat dia ingin terjun ke dunia kerja, dia memiliki banyak pilihan yang bisa dia ambil, kalaupun ditolak di sini, dia bisa kesana. Banyak pilihan yang ia dapatkan dikarenakan strata sosial dan pendidikan yang disandangnya, gelar sarjannya dapat ia "bawa" untuk memilih banyak pilihan kerja. Hal ini bakal seolah ngelindungin dia dan membuatnya merasa lebih aman saat diberhentikan dari pekerjaan tersebut. Nah lain hal dengan tamatan SMP/SMA, saat mereka mencari kerja, tentu lebih sulit bukan, dan saat mereka menemukan pekerjaan yang menerima mereka, mereka akan bersungguh sungguh dalam pekerjaan tersebut, karena mereka tau, saat pekerjaan tersebut lepas, maka bakalan sulit buat mereka nyari lagi. Sehingga mereka yang memiliki lebih sedikit pilihan, dapat kita katakan, akan lebih fokus dan lebih sungguh sungguh dalam mengerjakannya dibanding yang memiliki banyak pilihan.

Okay dari sini kita juga bisa asumsiin bahwa semakin banyak pilihan kita, semakin sulit kita untuk memfokuskan hal hal yang kita anggap prioritas. Tentu aja hal ini bakalan berdampak ke hasil keputusan tersebut yang engga maksimal.

Menurut aku, tanpa kita sadari, sebenarnya kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan setiap waktunya, dan kita harus bisa dengan cepat menentukan keputusan tersebut. Pagi saat kita mau berangkat ngampus atau pergi kerja, kita dihadapin sama pilihan "mau make baju yang mana yaa?", siangnyaa '"mau makan apaa yaa?", sore pas balik mampir ke area jajanan "mau beli jajan apaan yaa?". Atau hal yang lebih besar lagi, mungkin aja kita dihadapkan dengan pemilihan ketua organisasi lah, BEM kampuslah, bahkan sampe pemilihan wali kota, gubernur dan presiden. Mau beli Smartphone, milih merek A atau merek S, atau merek O. Banyak banget. Mau belanja skincare (aku gak terlalu paham sih, tapi ya kurang lebih gitu deh wkwk) milih merek ini, merek itu, ngeliat review di situs ini, yang bagus merek Ol, eh disitus lain review yang bagus merek My.

Hidup kita selalu dipenuhi dengan pilihan, dan, hidup kita itu kan emang pilihan.

Kita milih mau seperti apa kita ngejalanin hidup, kita milih mau masuk kampus mana, jurusan apa, kita milih mau gabung ke komunitas seperti apa. Kita milih dan milih, semuanya pilihan tersebut dihadapkan ke kita dan kita memilih.

Barry Schwartz, yang nulis buku di atas itu nulis yang kurang lebih gini, keputusan bagi manusia, baik itu kecil atau besar yang diambil, atau apakah keputusan itu signifikan atau tidak bagi kita, ternyata tingkat kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup akan meningkat jika pilihan yang ada terbatas, pilihan yang terbatas dan “kurang fleksibel” akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

Nah terus gimana dong saat kita harus memilih keputusan saat dihadapkan dengan banyak pilihan ?

Dari beberapa sumber aku ngeringkas jadi begini nii:

Solusi paling sederhana adalah dengan menyedikitkan pilihan yang ada. Misal untuk kasus kartu internet tadi, kita milih deh yang paling hemat dengan kualitas yang cukup, gak perlu yang high high. Terus kalo ke toko buku, jangan diliatin semua bukunya sampean pengen beli semuanyaa wkwkwk, tentuin lebih sedikit yang mau kita cari, misal tentuin dulu ni mau beli novel atau buku buku self improve, terus pilih mana yang kamu rasa paling nyaman dibaca. Terus juga sedikitkan pilihan untuk hal hal yang urgent dan kamu rasa penting untuk disegerakan.


Nah menurut kamu gimana, diskusiin ajaaa disinii
yuk asah pemikiran dan memperbaharui terus sudut pandang.


Referensi lain buat kamu :
https://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM  >>> Presentasinya Barry Schwartz di TED Talk, July 2005.