Minggu, 10 Mei 2020

Mau milih diantara pilihan yang banyak, kenalan dulu sama "Paradox Pilihan"

Foto oleh Steve Johnson dari Pexels


Haii semuanya, bertemu disni, mari makin meruncingkan pikiran dan memperkaya sudut pandang

Kali ini ada suatu topik yang bakalan seru banget buat kita bahas ni. Namanya "Paradoks Pilihan".
Aku dapat referensi materi ini dari

The Paradox of Choice: Mengapa Lebih itu Kurang


Okay, dari yang aku baca dan pahami, hal ini bakalan terjadi saat kita (baca : manusia) dihadapkan dengan banyak pilihan, kita bakal lebih sulit untuk memutuskan pilihan kita. Hal ini juga bisa aja bikin kita lebih sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Manusia akan lebih bahagia apabila dihadapkan dengan lebih sedikit pilihan (yang terbatas) dari pada lebih banyak pilihan.

Contoh simpelnya mungkin saat kamu berbelanja ke minimarket, berjalan ke lorong makanan dan kamu menemukan banyak sekali pilihan snack, kamu akan sulit untuk menentukan mana yang ingin kamu beli. Kita sering menduga saat kita memiliki banyak pilihan, kita akan cenderung lebih bahagia dan dapat menentukan apapun yang ingin kita pilih, namun ternyata berbalik dengan kenyataannya.

Atau saat kamu pergi ke toko buku (tanpa persiapan buku apa yang ingin dibeli, okay ini sering terjadi sama aku) dan menemukan banyak banget buku, kamu bakalan sulit buat milih buku mana yang ingin kamu beli, serasanya semuanyaa bagusss dan kamu pingin deh beli semuanya.

Mungkin kita mendefinisikan bahwa memiliki banyak pilihan adalah bentuk dari "kekuasaan" yang kita miliki, yang mana kita merasa kuat dan memiliki posisi yang lebih tinggi disaat banyak pilihan yang dapat kita ambil, terntaya hal ini tidak selalu menghasilkan kualitas yang baik atau bahkan memberikan kebebasan yang lebih kepada kita. Bahkan sering kali pula beragamnya pilihan yang tersedia membuat kita semakin buram untuk menentukan pilihan apa yang tebaik, dari hal ini dapat saja membuat kita salah memilih atas keputusan kita sendiri.

Kalo kita tinjau sih yaa, saat kita memiliki banyak pilihan, kita pasti ngerasa kayak memiliki "akses penuh" akan hal hal yang ada dihadapan kita, tentu aja dong, kita bisa milih a, atau milih b, yaa terserah kita mau milih yang mana, toh banyak pilihan yang tersedia, tapii nii, saat kita memutuskan untuk memilih dari banyak pilihan, ternyata kita akan mengeluarkan lebih banyak hal, kita akan lebih sulit menimbang apa yang terbaik, dari situ juga akan meningkatkan resiko kita bertemu dengan keputusan yang salah.

Okay coba kita liat contoh bentuk kekuasan yang kita sebutin diatas. Aku ngebayangin contoh di kartu internet. Yapp, internet provider. Kekuasaan disini kita maknakan dengan kemampuan ekonomi. Mereka yang memiliki uang lebih banyak bakal bisa memilih lebih banyak pilihan, sedangkan yang agak kurang, cuma bisa memilih lebih sedikit pilihan. Kalo aku ngeliat, hal ini bakal berdampak ke bagaimana orang tersebut nenutin mau beli yang mana, harganya berapa, kuota data seberapa banyak, yang entar bisa aja kita beli kuota ternyata dengan kualitas yang sama aja.

Satu hal lain lagi yang menurut aku contoh nyatanya adalah perbedaan orang yang tamatan sarjana dan (maaf) tamatan SMP/SMA dalam mencari kerja. Mungkin engga terlihat jelas dimana hal ini terjadi. Aku pingin coba bedah apa yang aku dapat. Tamatan sarjana akan ngerasa memiliki banyak kesempatan dalam memilih kerja, contoh lulusan anak informatika, saat dia ingin terjun ke dunia kerja, dia memiliki banyak pilihan yang bisa dia ambil, kalaupun ditolak di sini, dia bisa kesana. Banyak pilihan yang ia dapatkan dikarenakan strata sosial dan pendidikan yang disandangnya, gelar sarjannya dapat ia "bawa" untuk memilih banyak pilihan kerja. Hal ini bakal seolah ngelindungin dia dan membuatnya merasa lebih aman saat diberhentikan dari pekerjaan tersebut. Nah lain hal dengan tamatan SMP/SMA, saat mereka mencari kerja, tentu lebih sulit bukan, dan saat mereka menemukan pekerjaan yang menerima mereka, mereka akan bersungguh sungguh dalam pekerjaan tersebut, karena mereka tau, saat pekerjaan tersebut lepas, maka bakalan sulit buat mereka nyari lagi. Sehingga mereka yang memiliki lebih sedikit pilihan, dapat kita katakan, akan lebih fokus dan lebih sungguh sungguh dalam mengerjakannya dibanding yang memiliki banyak pilihan.

Okay dari sini kita juga bisa asumsiin bahwa semakin banyak pilihan kita, semakin sulit kita untuk memfokuskan hal hal yang kita anggap prioritas. Tentu aja hal ini bakalan berdampak ke hasil keputusan tersebut yang engga maksimal.

Menurut aku, tanpa kita sadari, sebenarnya kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan setiap waktunya, dan kita harus bisa dengan cepat menentukan keputusan tersebut. Pagi saat kita mau berangkat ngampus atau pergi kerja, kita dihadapin sama pilihan "mau make baju yang mana yaa?", siangnyaa '"mau makan apaa yaa?", sore pas balik mampir ke area jajanan "mau beli jajan apaan yaa?". Atau hal yang lebih besar lagi, mungkin aja kita dihadapkan dengan pemilihan ketua organisasi lah, BEM kampuslah, bahkan sampe pemilihan wali kota, gubernur dan presiden. Mau beli Smartphone, milih merek A atau merek S, atau merek O. Banyak banget. Mau belanja skincare (aku gak terlalu paham sih, tapi ya kurang lebih gitu deh wkwk) milih merek ini, merek itu, ngeliat review di situs ini, yang bagus merek Ol, eh disitus lain review yang bagus merek My.

Hidup kita selalu dipenuhi dengan pilihan, dan, hidup kita itu kan emang pilihan.

Kita milih mau seperti apa kita ngejalanin hidup, kita milih mau masuk kampus mana, jurusan apa, kita milih mau gabung ke komunitas seperti apa. Kita milih dan milih, semuanya pilihan tersebut dihadapkan ke kita dan kita memilih.

Barry Schwartz, yang nulis buku di atas itu nulis yang kurang lebih gini, keputusan bagi manusia, baik itu kecil atau besar yang diambil, atau apakah keputusan itu signifikan atau tidak bagi kita, ternyata tingkat kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup akan meningkat jika pilihan yang ada terbatas, pilihan yang terbatas dan “kurang fleksibel” akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

Nah terus gimana dong saat kita harus memilih keputusan saat dihadapkan dengan banyak pilihan ?

Dari beberapa sumber aku ngeringkas jadi begini nii:

Solusi paling sederhana adalah dengan menyedikitkan pilihan yang ada. Misal untuk kasus kartu internet tadi, kita milih deh yang paling hemat dengan kualitas yang cukup, gak perlu yang high high. Terus kalo ke toko buku, jangan diliatin semua bukunya sampean pengen beli semuanyaa wkwkwk, tentuin lebih sedikit yang mau kita cari, misal tentuin dulu ni mau beli novel atau buku buku self improve, terus pilih mana yang kamu rasa paling nyaman dibaca. Terus juga sedikitkan pilihan untuk hal hal yang urgent dan kamu rasa penting untuk disegerakan.


Nah menurut kamu gimana, diskusiin ajaaa disinii
yuk asah pemikiran dan memperbaharui terus sudut pandang.


Referensi lain buat kamu :
https://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM  >>> Presentasinya Barry Schwartz di TED Talk, July 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar