Rabu, 27 Mei 2020

,



[Notes : Tulisan ini adalah beberapa hal yang ingin aku bagikan berdasarkan apa yang aku rasakan dan aku coba mengerti, bukanlah pembahasan lebih dalam secara saintifik. Dan konsep yang ada disini benar benar sudut pandang aku, yang bisa aja gak sesuai dengan nilai yang orang lain anut, hal yang wajar untuk menjadi berbeda kok ,hehe]

    Pas banget momen Idul Fitri, walaupun beda suasana, momen kedekatan dan merekatkan kembali silaturrahmi harus tetap jalan dong yaa.

    Yang khas banget di momen ginian tentu aja minta maaf lahir batin dong yaa. Hari yang fitri, hari kemenangan. Perlu diperhatiin ni, kita udah coba minta maaf ke oran lain, tapi gimana dengan diri kita sendiri, udah minta maaf ke diri sendiri belumm?
Kalo kita ngerasa penting untuk minta maaf ke orang lain, kitapun harus sadar bahwa jauh lebih penting untuk minta maaf ke diri sendiri.

Kenapa harus minta maaf ke diri sendiri? emangnya apa yang aku lakuin sampean harus minta maaf? lagian kan diri aku sendiri pun
    Menurut aku diri kita sendiri lah yang paling patut kita maafin terlebih dahulu. Entah itu secara sadar atau tidak, pasti kita semua pernah melakukan kesalahan, dan gak jarang kesalahan tersebut bener bener mengecewakan diri kita, membuat kita kesel dengan diri sendiri, bahkan sampean nyalahin diri sendiri terus. 

Sebelum lebih jauh ni, kenapa rasa bersalah itu bisa muncul dan apa fungsi dia sih?

    Kalo kita analogiin aja sih, rasa bersalah kan muncul dari ketidaksesuaian antara apa yang harus dilakuin dan apa yang kita kerjain, jadi rasa bersalah itu muncul saat kita ngelakuin hal yang gak seharusmya. Nah dari sini, kita bisa dong bentuk sebuah argumen kalo sebenarnya rasa bersalah itu datang sebagai bentuk peringatan kepada diri kita sendiri agar mengerti situasi yang terjadi, ngerti kalo kondisi disaat itu adalah sesuatu yang tidak tepat. Tapi niiii, rasa bersalah ini hanya akan menjadi hal yang baik kalo kita ngeresponnya sesuai dengan kadarnya. Pasalnyaa, banyak dari kita yang ngerasain rasa bersalah terlalu jauh, rasa bersalah itu menjadi sangat berat bagi kita. Entah apapun yang melatarbelakangi hal ini muncul, tetap aja akan berdampak tidak baik banget bagi diri kita.

    Rasa bersalah ini menjadi sebuah cap buruk yang tersemat ke dalam diri sendiri akibat sesuatu di masa lalu baik itu kekurangan, kekesalan dan kekecewaan, dalam konteks ini kita menisbatkan diri dengan segala hal tersebut. Hal yang berlebihan ini akan membawa kita kepada kondisi dimana kita kehilangan kepercayaan atas diri kita sendiri, mungkin aja akan terucap hal hal seperti :
    "kok gini doang aku gak bisa diandelin sih",
    "apa iya aku seburuk itu", 
    "coba aja dulu aku gak begini",
    "semua pasti berbeda kalo aku ngelakuin hal yang lain, bukan yang itu"

    Kata kata diatas gini adalah sedikit bentuk atas rasa bersalah yang terlalu besar dalam diri kita, yang mana sampe bikin kita udah gak yakin lagi atas diri kita, ngerasa udah capek atas apa yang kita lakuin, salah melulu, salah terus, gak berguna terus. 

    Lalu juga, ternyata rasa bersalah ke diri sendiri itu bukan hanya bisa muncul dari tindakan yang kita secara sadar bertanggung jawab atasnya, melainkan juga bisa terjadi atas hal hal yang diluar tanggung jawab kita, diluar kendali dan kontrol kita, yang bukan lah kesalahan kita secara mutlak. 

    Hal ini bisa terjadi pada kasus hal hal yang kredensial dengan kita, yang sifatnya personal, dekat dengan kita dan memiliki hubungan secara batin yang dalam, sehingga memunculkan kecenderungan kita akan kesalahan tersebut adalah kesalahan kita juga, walaupun pada kenyataannya bukan lah kesalahan kita secara mutlak. Rasa bersalah yang seperti ini bisa muncul sebagai bentuk kehilangan kepercayaan kita terhadap lingkaran sosial terdekat kita, ataupula rusaknya hubungan dengan orang orang yang sangat dekat dengan kita, ataupula dari lingkungan pertama kali kita, keluarga.

    Hal diatas hanya sebagian kecil sampel dari bentuk yang bisa saja terjadi. Sampe sini kita anggep bahwa persepsi kita mengenai rasa bersalah yang akan kita bicarakan udah sama yaa. 

Okay, bentuk rasa bersalah yang "kegedean porsinya" ini yang harus ditindak lanjuti dengan baik. Pelan pelan. 

    Yok coba kita bahas, apaan aja sih sebenarnya yang harus dimaafin dari diri sendiri dalam bentuk dimana aja yang kita gak sadar kalo sebenarnya kita udah ngelakuin kesalahan ke diri sendiri!

  1. Saat ternyata harapan yang kita emban dan bawa tidak sesuai dan sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang saat ini harus kita tanggung. Kenyataan yang kita alami adalah hasil dari keputusan baik kita sendiri yang memutuskannya maupun orang lain yang memiliki pengaruh atas diri kita. 
  2. Saat apa yang kita lakuin untuk menggapai apa yang kita tujukan terhenti ditengah jalan, dihentikan, atau terhentikan, mungkin saja dengan alasan konyol yang bahkan gak bisa kita pikirin apakah hal tersebut mungkin untuk terjadi.
  3. Saat kita tidak menyadari bahwa sudah terlalu keras dengan diri sendiri, mengedepankan perasaan orang lain terlebih dahulu dan tidak mengutamakan perasaan diri sendiri. 
  4. Saat keputusan yang diambil bukanlah keputusan paling ideal yang kita pikirkan (disaat itu)
  5. Hal hal diluar kendali kita berbuat hal hal yang berlawanan dengan nilai yang kita anut yang juga menyakiti kita.
    Sedikit cerita, dulu semenjak SD, mimpi aku gak pernah berubah untuk menjadi seorang dokter, mengikuti jejak kedua orang tua, embel embel "anak dokter" itu selalu melekat membentuk stigma kalo aku harus jadi dokter. Bukan paksaan, emang mimpi aku banget. Dari SMA perkembangan akademik aku mengalami kemajuan pesat banget, aku sungguh sungguh untuk bisa lulus ke pendidikan dokter. Dari kelas 1 udah ngikut try out dan hasilnya selalu berkembang, sampean nilai aku udah lulus untuk bisa masuk ke kedokteran. Waktu itu aku terlalu buta kali yaa, keinginan aku terhalang oleh kondisi saat itu, dan aku dengan bersikukuh terus maju tanpa pertimbangkan kondisi yang bener bener krusial. Langsung aja ke intinya, aku gak lulus jalur undangan, dan gak ikut tes lagi untuk ke FK. Pernah hancur banget.

    Pernah ngerasin kegagalan dan kekecewaan yang sangat mendalam, merasa bersalah atas keputusan aku dan dengan kondisi yang terjadi saat itu. Pernah menghakimi diri sendiri dan pernah meragukan diri sendiri, pernah ngerasa gak bisa diandalkan dan ngerasa gak pantas.

Kalo kita gunakan kerangka yang ada diatas tadi dengan cerita aku, hal hal yang menjadi rasa bersalah aku disebabkan :
  • Harapan aku tidak sesuai dengan kenyataan yang aku hadapi.
  • Kerja keras aku terhentikan, gak bisa dilanjutkan karena kondisi.
  • Terlalu keras dengan diri sendiri, dengan egonya yakin kalo aku bisa lulus tanpa mempertimbangkan hal lain

    Banyak hal lain lagi yang cukup personal untuk aku bahas, jadi gak bisa menceritakan banyak hal. Yang pastinya, kita semua pernah memiliki waktu waktu yang buruk dalam hidup kita, semua kita punya persoalan hidup masing masing jenisnya.


Kita harus yakinkan terlebih dahulu, bahwa masalah apapun yang saat ini kita rasakan adalah mutlak kesalahan yang punya jalan keluar. Semua akan baik baik aja kok. Kita memerlukan waktu untuk menerima terlebih dahulu apa yang terjadi dengan diri kita. Bukan hal mudah memang, bahkan kita masih akan terus berusaha untuk menerima keadaan. Move on dari kenyataan yang terjadi bukan bagai membalikan telapak tangan, perlu waktu, perlu proses.

Kesalahan yang udah terjadi di masa lalu gak bisa kita ubah, gak bisa dong kita balikin waktu dan berharap untuk kembali ke kejadian waktu itu dan ngerubah alurnya. Artinya kita sudah siap nerima kalo itu benar benar terjadi. Setelah menerima apa yang terjadi, mengenali dan mengetahui dengan jelas apa yang terjadi, selanjutnya kita coba untuk rubah pemikiran. Yang tadinya kita anggap itu terlalu besar, coba kita pecah pecahkan menjadi hal yang lebih sederhana, bongkar sedikit demi sedikit bagian lukanya.

Pelajaran yang penting dalam hidup kita muncul dan dapat kita pelajari di waktu waktu yang tidak terduga, muncul tiba tiba tanpa ada persiapan, yap gitu deh yang namanya ujian kehidupan. Kesalahan yang 

Kesalahan apapun itu, tak selalu buruk, ada hal hal yang ternyata tidak kita duga muncul menjadi hal yang lebih baik. Bahkan lebih baik dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Semakin kita cepat menerima hal yang terjadi, kita punya waktu yang lebih cepat untuk bertemu dengan hal hal baik lainnya.

Setelah kekecewaan yang dalam akibat engga lulus Fk, ternyata dengan cepatnya pula aku dihadapkan dengan hal yang jauh jauhhh lebih baik.

Yakinkan kalo kita bukanlah cap buruk dari kesalahan tersebut. Kamu bukanlah kesalahan yang kamu perbuat. Diri kita bukanlah bentukan dari kesalahan kesalahan yang terjadi, diri kita adalah diri kita. Gak penting seberapa butuk waktu yang pernah kita alami, hal tersebut sudah berlalu, fokuskan pikiran kita ke depan.


Kita sendirilah yang menciptakan kebahagian diri kita sendiri. Setiap saat kita akan dihadapkan dengan pilihan : menyesali kegagalan dan bertahan di masa lalu, atau menggenggam kegagalan dan berjalan kembali meraih kebahagiaan. Bagi aku, senyum adalah pilihan bukan hanya keajaiban. Kita yang memilih untuk tersenyum, maka kesalahan banget kalo kita menunggu dan berharap datang hal hal yang membuat kita bahagia. 

Yaap sekian.
Aku menulis untuk diriku...
Terima kasih :)


Minggu, 10 Mei 2020

,
Foto oleh Steve Johnson dari Pexels


Haii semuanya, bertemu disni, mari makin meruncingkan pikiran dan memperkaya sudut pandang

Kali ini ada suatu topik yang bakalan seru banget buat kita bahas ni. Namanya "Paradoks Pilihan".
Aku dapat referensi materi ini dari

The Paradox of Choice: Mengapa Lebih itu Kurang


Okay, dari yang aku baca dan pahami, hal ini bakalan terjadi saat kita (baca : manusia) dihadapkan dengan banyak pilihan, kita bakal lebih sulit untuk memutuskan pilihan kita. Hal ini juga bisa aja bikin kita lebih sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Manusia akan lebih bahagia apabila dihadapkan dengan lebih sedikit pilihan (yang terbatas) dari pada lebih banyak pilihan.

Contoh simpelnya mungkin saat kamu berbelanja ke minimarket, berjalan ke lorong makanan dan kamu menemukan banyak sekali pilihan snack, kamu akan sulit untuk menentukan mana yang ingin kamu beli. Kita sering menduga saat kita memiliki banyak pilihan, kita akan cenderung lebih bahagia dan dapat menentukan apapun yang ingin kita pilih, namun ternyata berbalik dengan kenyataannya.

Atau saat kamu pergi ke toko buku (tanpa persiapan buku apa yang ingin dibeli, okay ini sering terjadi sama aku) dan menemukan banyak banget buku, kamu bakalan sulit buat milih buku mana yang ingin kamu beli, serasanya semuanyaa bagusss dan kamu pingin deh beli semuanya.

Mungkin kita mendefinisikan bahwa memiliki banyak pilihan adalah bentuk dari "kekuasaan" yang kita miliki, yang mana kita merasa kuat dan memiliki posisi yang lebih tinggi disaat banyak pilihan yang dapat kita ambil, terntaya hal ini tidak selalu menghasilkan kualitas yang baik atau bahkan memberikan kebebasan yang lebih kepada kita. Bahkan sering kali pula beragamnya pilihan yang tersedia membuat kita semakin buram untuk menentukan pilihan apa yang tebaik, dari hal ini dapat saja membuat kita salah memilih atas keputusan kita sendiri.

Kalo kita tinjau sih yaa, saat kita memiliki banyak pilihan, kita pasti ngerasa kayak memiliki "akses penuh" akan hal hal yang ada dihadapan kita, tentu aja dong, kita bisa milih a, atau milih b, yaa terserah kita mau milih yang mana, toh banyak pilihan yang tersedia, tapii nii, saat kita memutuskan untuk memilih dari banyak pilihan, ternyata kita akan mengeluarkan lebih banyak hal, kita akan lebih sulit menimbang apa yang terbaik, dari situ juga akan meningkatkan resiko kita bertemu dengan keputusan yang salah.

Okay coba kita liat contoh bentuk kekuasan yang kita sebutin diatas. Aku ngebayangin contoh di kartu internet. Yapp, internet provider. Kekuasaan disini kita maknakan dengan kemampuan ekonomi. Mereka yang memiliki uang lebih banyak bakal bisa memilih lebih banyak pilihan, sedangkan yang agak kurang, cuma bisa memilih lebih sedikit pilihan. Kalo aku ngeliat, hal ini bakal berdampak ke bagaimana orang tersebut nenutin mau beli yang mana, harganya berapa, kuota data seberapa banyak, yang entar bisa aja kita beli kuota ternyata dengan kualitas yang sama aja.

Satu hal lain lagi yang menurut aku contoh nyatanya adalah perbedaan orang yang tamatan sarjana dan (maaf) tamatan SMP/SMA dalam mencari kerja. Mungkin engga terlihat jelas dimana hal ini terjadi. Aku pingin coba bedah apa yang aku dapat. Tamatan sarjana akan ngerasa memiliki banyak kesempatan dalam memilih kerja, contoh lulusan anak informatika, saat dia ingin terjun ke dunia kerja, dia memiliki banyak pilihan yang bisa dia ambil, kalaupun ditolak di sini, dia bisa kesana. Banyak pilihan yang ia dapatkan dikarenakan strata sosial dan pendidikan yang disandangnya, gelar sarjannya dapat ia "bawa" untuk memilih banyak pilihan kerja. Hal ini bakal seolah ngelindungin dia dan membuatnya merasa lebih aman saat diberhentikan dari pekerjaan tersebut. Nah lain hal dengan tamatan SMP/SMA, saat mereka mencari kerja, tentu lebih sulit bukan, dan saat mereka menemukan pekerjaan yang menerima mereka, mereka akan bersungguh sungguh dalam pekerjaan tersebut, karena mereka tau, saat pekerjaan tersebut lepas, maka bakalan sulit buat mereka nyari lagi. Sehingga mereka yang memiliki lebih sedikit pilihan, dapat kita katakan, akan lebih fokus dan lebih sungguh sungguh dalam mengerjakannya dibanding yang memiliki banyak pilihan.

Okay dari sini kita juga bisa asumsiin bahwa semakin banyak pilihan kita, semakin sulit kita untuk memfokuskan hal hal yang kita anggap prioritas. Tentu aja hal ini bakalan berdampak ke hasil keputusan tersebut yang engga maksimal.

Menurut aku, tanpa kita sadari, sebenarnya kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan setiap waktunya, dan kita harus bisa dengan cepat menentukan keputusan tersebut. Pagi saat kita mau berangkat ngampus atau pergi kerja, kita dihadapin sama pilihan "mau make baju yang mana yaa?", siangnyaa '"mau makan apaa yaa?", sore pas balik mampir ke area jajanan "mau beli jajan apaan yaa?". Atau hal yang lebih besar lagi, mungkin aja kita dihadapkan dengan pemilihan ketua organisasi lah, BEM kampuslah, bahkan sampe pemilihan wali kota, gubernur dan presiden. Mau beli Smartphone, milih merek A atau merek S, atau merek O. Banyak banget. Mau belanja skincare (aku gak terlalu paham sih, tapi ya kurang lebih gitu deh wkwk) milih merek ini, merek itu, ngeliat review di situs ini, yang bagus merek Ol, eh disitus lain review yang bagus merek My.

Hidup kita selalu dipenuhi dengan pilihan, dan, hidup kita itu kan emang pilihan.

Kita milih mau seperti apa kita ngejalanin hidup, kita milih mau masuk kampus mana, jurusan apa, kita milih mau gabung ke komunitas seperti apa. Kita milih dan milih, semuanya pilihan tersebut dihadapkan ke kita dan kita memilih.

Barry Schwartz, yang nulis buku di atas itu nulis yang kurang lebih gini, keputusan bagi manusia, baik itu kecil atau besar yang diambil, atau apakah keputusan itu signifikan atau tidak bagi kita, ternyata tingkat kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup akan meningkat jika pilihan yang ada terbatas, pilihan yang terbatas dan “kurang fleksibel” akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

Nah terus gimana dong saat kita harus memilih keputusan saat dihadapkan dengan banyak pilihan ?

Dari beberapa sumber aku ngeringkas jadi begini nii:

Solusi paling sederhana adalah dengan menyedikitkan pilihan yang ada. Misal untuk kasus kartu internet tadi, kita milih deh yang paling hemat dengan kualitas yang cukup, gak perlu yang high high. Terus kalo ke toko buku, jangan diliatin semua bukunya sampean pengen beli semuanyaa wkwkwk, tentuin lebih sedikit yang mau kita cari, misal tentuin dulu ni mau beli novel atau buku buku self improve, terus pilih mana yang kamu rasa paling nyaman dibaca. Terus juga sedikitkan pilihan untuk hal hal yang urgent dan kamu rasa penting untuk disegerakan.


Nah menurut kamu gimana, diskusiin ajaaa disinii
yuk asah pemikiran dan memperbaharui terus sudut pandang.


Referensi lain buat kamu :
https://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM  >>> Presentasinya Barry Schwartz di TED Talk, July 2005.